September 20, 2008...8:53 pm

Mengembara di Corvallis Farmers’ Market

Jump to Comments

Hari Sabtu adalah hari yang sangat dinanti oleh setiap orang, paling tidak untuk keluarga Prasad. Selain berkumpul dan menikmati hari libur, kami pun dapat melihat keramaian kota Corvallis, Oregon, USA. Hal tersebut hanya terjadi di hari Sabtu karena pada hari-hari yang lain semua orang sibuk bekerja, bersekolah, dan juga beribadah.

 

Keramaian terpusat di Downtown, terutama di perempatan 1st street dan Madison Avenue. Orang tua membawa anak-anaknya, musisi menunjukkan bakatnya dengan bahagia, serta buah dan sayuran segar dipromosikan oleh para petani nan ramah merupakan pemandangan yang lumrah di Corvallis Farmers’ Market. Jangan bayangkan Corvallis Farmers’ Market sebagai pasar yang kotor dan bau! Pasar yang diselenggarakan setiap hari Sabtu mulai dari April hingga November ini benar-benar jauh dari kata menjijikkan. Para pedagang adalah petani yang mempunyai ladang di sekitar Corvallis seperti Albany dan Philomath.  Setiap pedagang menempati satu atau dua tenda sebagai kios. Mereka wajib menjaga kebersihan kiosnya. Pengunjung pun sangat bertanggung jawab terhadap kebersihan pasar dadakan ini. Bila ada sampah, tanpa disuruh pun setiap orang akan berinisiatif untuk membuangnya di tempat sampah. Hampir tidak ada pengunjung yang menggunakan plastik untuk membawa belanjaan, mereka membawa tas dari rumah masing-masing sebagai wujud kepedulian terhadap kebersihan pasar dari plastik yang berserakan sekaligus mencegah pemanasan global.

 

Pasar yang diselenggarakan sebagai bentuk penghormatan kepada petani ini selalu dibuka pada pukul 9 pagi dan selesai pada pukul 1 siang. Saya dan keluarga  hanya berkeliling selama 2 jam, dari pukul 10 hingga tengah hari. Hari ini entah mengapa pasar terlihat lebih padat dari biasanya. Temperatur 17 derajat Celcius tidak menghalangi minat masyarakat untuk mencari hasil kebun yang masih segar. Selain buah, daging, dan sayuran, saya menjumpai aneka makanan yang unik dari berbagai negara. Poffertjes, kue dari Belanda yang bentuknya mirip kue apem, adalah salah satu favorit keluarga. Kios Taco dan Burrito selalu dipenuhi pecinta masakan Mexico. Masakan Thailand pun dijual di Corvallis Farmers’ Market. Saya yang menjalankan shaum hanya memandang semua makanan dan berharap bisa menikmatinya saat Ramadhan usai.

 

Di ujung pasar, saya melihat beberapa meja berderet dipenuhi oleh selebaran. Corvallis Farmers’ Market pun ternyata dimanfaatkan oleh para aktivis untuk mendapat dukungan! Seorang ibu sibuk menawarkan program “Go Green, Be Vegetarian” kepada setiap orang yang lewat. Beberapa orang tampak mengerumuni meja untuk mendengarkan penjelasan tentang perbaikan fasilitas kesehatan. Tapi, tidak ada meja semenarik “Vote for Obama!”. Di sebelah kanan meja, para aktivis mendirikan potret Obama dari kepala hingga kaki dengan skala 1:1. Spanduk Obama dipasang sepanjang meja. Pin “Obama 08” diberikan kepada mereka yang menandatangani formulir kesediaan untuk memilih Obama pada Pemilihan Umum mendatang.

 

Hari ini, tidak seperti biasa, marching band dari Corvallis High School yang berjumlah sekitar 20 orang tampil memainkan beberapa lagu. Mereka berusaha mengumpulkan dana sebanyak mungkin. Kotak flute disulap menjadi kotak sumbangan. Penampilan yang memukau membuat banyak orang tertarik untuk memberikan selembar atau beberapa lembar kertas hijau bertuliskan dollar. Melihat tumpukan kertas bergambar Washington dan Lincoln tersebut, saya berasumsi bahwa hanya dalam beberapa menit saja mereka berhasil mendapatkan 50 dollar!

 

Pengembaraan dilanjutkan dengan melihat air mancur di tengah taman yang masih terletak di 1st street. Cuaca yang kurang bersahabat membuat anak-anak tidak tertarik untuk main air. Beberapa lansia duduk di bangku panjang menikmati indahnya taman yang masih berhiaskan bunga. Dalam beberapa minggu mendatang, mahkota bunga-bunga tersebut akan hilang. Dalam beberapa bulan mendatang, saat musim dingin tiba, bunga-bunga tersebut tak lebih dari tangkai usang yang menanti cahaya musim semi.

 

Tanpa membeli apa-apa untuk dibawa ke rumah, saya dan keluarga kembali ke tempat parkir untuk pulang. Ya, yang kami cari bukanlah buah, sayur, ataupun daging. Angin pertanda musim gugur, keramahan penduduk Corvallis, dan harmoni kehidupan sudah cukup menjernihkan hati masing-masing.

5 Comments


Leave a Reply